Muhammadsyah dan Mitos Parube Haji di Sumatera Utara


Nama Muhammadsyah menempati posisi yang unik dalam tradisi sejarah dan tarombo di Sumatera Utara. Ia tidak hanya dikenal sebagai seorang sultan dari Inderapura di pesisir barat Sumatera, tetapi juga hadir dalam berbagai legenda, hikayat, dan silsilah masyarakat Batak serta Pakpak dan sekitarnya. Sosoknya berada di antara dunia sejarah dan dunia mitos, sehingga jejaknya sering kali muncul dengan nama, gelar, dan peran yang berbeda-beda.

Dalam sejumlah tradisi lisan, Muhammadsyah adalah Sultan Kerajaan Inderapura yang masih termasuk dalam lingkungan Dinasti Jamalul Alam. Dinasti ini dipercaya memiliki hubungan dengan Peurlak di Aceh, sebuah kerajaan Islam tua yang berkembang pada masa ketika pengaruh Sriwijaya masih terasa di kawasan Selat Malaka dan pesisir barat Sumatra. Keluarga Sultan Inderapura saat ini memimpin Naqabah Ashraf Salatin (NAS) Nusantara yang menghimpun zurriyat Nabi SAW se Indonesia dari jalur kesultanan. Kesultanan Inderapura masih terkait Kesultanan Brunei Darussalam maupun Megawati Sukarnoputri melalui jalur ibunya Fatmawati.

Di kalangan masyarakat Batak, nama Muhammadsyah sering muncul dalam tarombo dengan sebutan Sori Muhammad. Nama ini bahkan masih dapat ditemukan dalam sejumlah lagu tarombo yang diwariskan turun-temurun. Kehadiran nama tersebut menunjukkan bahwa sosok Muhammadsyah pernah memiliki posisi penting dalam ingatan kolektif masyarakat Batak.

Walaupun beberapa versi tarombo modern tidak lagi mencantumkan nama Sori Muhammad secara jelas, jejaknya tetap bertahan melalui gelar Parube Haji. Gelar ini dikenal luas di berbagai wilayah Batak dan Pakpak, bahkan sering muncul dalam legenda-legenda yang berkembang di pedalaman Sumatera Utara.

Menurut kronik Barus, Muhammadsyah merupakan ayahanda dari Tuan Ibrahimsyah. Tokoh ini kemudian dikenal sebagai Sultan Barus Hilir pertama. Dalam tradisi sejarah Barus, Ibrahimsyah menjadi figur penting yang menghubungkan dunia pesisir dengan wilayah pedalaman Batak.

Anak dari Tuan Ibrahimsyah, Sisingamangaraja I di Bakkara, diangkat oleh Sultan Aceh sebagai Khalifah Batak menurut Hikayat Meukuta Alam yang menggambarkan hubungan politik dan spiritual antara Aceh dan Tanah Batak pada masa lampau.

Tradisi juga menyebut bahwa Tuan Ibrahimsyah memimpin perjalanan besar dari Tarusan di Sumatera Barat menuju Barus. Perjalanan itu melewati kawasan Silindung dan Bakkara sebelum mencapai wilayah pesisir barat Sumatera Utara. Jalur tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam berbagai legenda migrasi dan penyebaran pengaruh Islam di pedalaman Batak.

Tarusan sendiri dikenal sebagai negeri yang melahirkan banyak ulama. Dalam literatur Islam Nusantara, sejumlah ulama menggunakan laqab At-Tarusani atau Al-Tarusani untuk menunjukkan asal-usul mereka. Tarusan sendiri sudah menjadi marga menjadi Tarus atau Sitarus/Sitorus. Karena itu, Tarusan sering digambarkan sebagai salah satu pusat intelektual Islam di pesisir barat Sumatra.

Dari garis keturunan Muhammadsyah inilah muncul istilah Raja Uti atau Raja Putih dalam berbagai tradisi Batak. Istilah tersebut sering dikaitkan dengan kelompok bangsawan atau tokoh yang dianggap memiliki posisi sentral dalam budaya pembentukan struktur sosial dan politik setempat.

Walaupun nama Muhammadsyah tidak banyak dibahas dalam sejarah resmi, kisah-kisah mengenai dirinya tetap hidup melalui legenda Parube Haji. Di wilayah Barus, Dairi, dan Pakpak, nama Parube Haji menjadi bagian dari cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam tradisi Pakpak, Parube Haji menempati posisi sentral sebagai leluhur yang dihormati. Masyarakat Suak Simsim di wilayah Pakpak Bharat mengenalnya sebagai figur yang berkaitan dengan lahirnya sejumlah marga tua yang memiliki peran penting dalam sejarah daerah tersebut.

Salah satu kisah yang paling terkenal menyebut bahwa Parube Haji lahir dari seorang perempuan bernama Berru Kombih. Kombih adalah marah khas Aceh Singkil. Keunikan cerita ini terletak pada adanya tiga tokoh ayah yang berbeda, yakni Soritandang dari marga Padang, Sorigigi dari marga Berutu, dan Punguten Sori dari marga Solin. Ketiganya dikenal sebagai Banu Harhar. Harhar sendiri dalam sebuah versi merupakan marga Arab dari Yaman.

Narasi tersebut kemudian menjadi dasar lahirnya ikatan persaudaraan antara marga Padang, Berutu, dan Solin. Dalam tradisi Pakpak, ketiga kelompok tersebut terikat dalam suatu perjanjian yang melarang perkawinan di antara mereka karena dianggap berasal dari satu ikatan leluhur yang sama.

Jejak perjanjian tersebut dipercaya masih diingat melalui situs Batu Tettal yang berada di kawasan Jambu Rea, Pakpak Bharat. Situs ini sering disebut sebagai simbol persaudaraan dan kesepakatan adat yang diwariskan oleh para leluhur.

Di sisi lain, catatan kolonial Belanda memberikan versi berbeda mengenai Parube Haji. Dalam beberapa tulisan kolonial, Perboe Hadji disebut sebagai putra sulung seorang tokoh bernama Manik. Sementara itu, saudara keduanya bernama Onggang yang kemudian dianggap sebagai leluhur marga Beringin.

Perbedaan antara tradisi lisan dan catatan kolonial tersebut menimbulkan berbagai perdebatan. Sebagian pihak menganggap Parube Haji sebagai figur historis yang nyata, sedangkan pihak lain melihatnya sebagai tokoh simbolik yang mewakili penyatuan beberapa kelompok masyarakat dalam satu garis keturunan mitologis.

Polemik semakin berkembang ketika muncul pendapat yang menempatkan Parube Haji sebagai raja di wilayah Pakpak sebelum munculnya kelompok-kelompok marga tertentu. Klaim ini sering menjadi bahan diskusi karena tidak semua tarombo memberikan keterangan yang sama mengenai urutan generasi, angka tahun dan perkiraan sebuah hubungan kekerabatan atau perpadanan dibuat.

Legenda lain yang terkenal adalah kisah Batu Merdahup di Dairi. Dalam cerita rakyat tersebut, Parube Haji digambarkan sebagai seorang raja yang keras dan semena-mena. Akibat perlakuannya, sang istri bersama anak-anaknya mengalami penderitaan hingga akhirnya menghilang ke dalam batu yang kemudian menjadi bagian dari legenda setempat.

Pada masa yang lebih dekat, muncul pula upaya rekonstruksi sejarah oleh sebagian tokoh marga yang dikenal sebagai Kesepakatan Barus tahun 1990. Dalam narasi tersebut, Parube Haji disebut pula sebagai Datu Tenggaran dan dianggap sebagai adik Raja Manande Uhum. Ia dikisahkan membawa segumpal tanah dan sekendi air ketika menjadi panglima Sultan Muhammad Syah dari Negeri Tarusan dalam perjalanan menuju Barus.

Pada akhirnya, Muhammadsyah atau Sori Muhammad atau Parube Haji tetap menjadi sosok multidimensi dalam sejarah Sumatera Utara. Sebagian kisah tentang dirinya mungkin berasal dari fakta sejarah, sebagian lainnya berkembang menjadi legenda dan simbol identitas. Namun justru karena perpaduan antara sejarah, mitos, tarombo, dan ingatan kolektif itulah nama Muhammadsyah terus hidup dalam tradisi Batak, Pakpak, Barus, dan pesisir barat Sumatra hingga hari ini.

#parubehaji #barus #tapanulitengah

https://www.facebook.com/share/p/1BJB8ZVSJr/

Share on Google Plus

About Admin2

Aksi damai yang digelar jutaan umat Islam di Monas, Jakarta ternyata memberi kesan indah merupakan aksi damai Pancasila; Yakni aksi yang religi, diisi ibadah, damai, bermoral tinggi, saling menghargai antara peserta dan aparat keamanan, saling bantu antara peserta aksi dan masyarakat.

0 comments:

Post a Comment

loading...