Tanjung Pura, sebuah kota di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, kini dikenal sebagai pusat pemerintahan kecamatan, tetapi peran historisnya jauh lebih kaya. Berdasarkan literatur klasik Melayu, wilayah ini memiliki kaitan erat dengan silsilah penguasa Majapahit dan perjalanan sejarah nusantara.
Dalam catatan yang kemungkinan berasal dari Sejarah Melayu atau Malay Annals, disebutkan bahwa seorang raja Majapahit, yang dikenal sebagai Sangaji Jaya Ningrat, ternyata merupakan keturunan Raja Tanjung Pura. Hal ini menghubungkan Sumatera Utara langsung dengan pusat kerajaan di Jawa pada abad ke-14.
Nama asli penguasa Majapahit tersebut adalah Radin Prana Langu, lahir dari garis keturunan yang turun dari Gunung Siguntang, simbol sakral dalam sejarah Melayu. Keterkaitan ini menunjukkan bahwa Tanjung Pura bukan sekadar wilayah terpencil, melainkan bagian penting jaringan politik dan budaya Nusantara.
Sejak masa itu, Tanjung Pura menjadi titik strategis yang menyalurkan pengaruh Sumatra ke Jawa dan sebaliknya. Koneksi ini juga terlihat dari pernikahan putri-putri istana yang membentuk aliansi antar-kerajaan, salah satunya Radin Galah Chandrakerana yang menjadi perhatian Sultan Malaka.
Dalam versi narasi ini, Gajah Mada muncul sebagai menteri yang bijaksana. Ia menyelesaikan dilema antara janji raja kepada ayah angkatnya dengan tetap mempertahankan stabilitas Majapahit. Kisah ini menekankan bahwa kebijaksanaan politik sangat dihargai dalam sejarah Nusantara.
Tanjung Pura pada masa itu tidak hanya menjadi asal-usul penguasa, tetapi juga pusat produksi dan distribusi nira atau tuak. Posisi ekonomi ini membuat wilayah tersebut penting bagi Majapahit, karena sumber daya lokal turut mendukung kestabilan kerajaan.
Sejarah Tanjung Pura juga mencerminkan bagaimana hubungan antara Sumatra dan Jawa dibangun melalui garis keluarga dan aliansi politik. Wilayah ini menjadi jembatan budaya yang mempengaruhi struktur pemerintahan dan tradisi Melayu di nusantara.
Selain peran politik dan ekonomi, Tanjung Pura juga menjadi simbol keberlanjutan adat dan warisan Melayu. Tradisi lokal, ritual sakral, dan nilai-nilai kepemimpinan masih dapat ditelusuri hingga kini, meski kota telah berkembang modern.
Dalam konteks sejarah luas, Tanjung Pura menegaskan bahwa pengaruh Sumatra tidak terbatas pada kerajaan Sriwijaya saja, tetapi juga berlanjut ke Majapahit melalui garis keturunan dan hubungan diplomatik. Wilayah ini menjadi bukti bahwa Nusantara adalah jaringan kompleks kerajaan yang saling terkait.
Kini, Tanjung Pura tetap menjadi titik penting di Langkat, meski fungsi administratifnya sederhana. Warisan sejarahnya tetap menjadi pengingat akan peran strategis wilayah Sumatera Utara dalam politik, budaya, dan ekonomi Nusantara, menandai jejak pengaruh Melayu yang membentang dari Bukit Siguntang hingga Majapahit di Jawa.
Berikut terjemahan teks Sulalatus Salatin (Malay Annals) menggunakan bahasa Inggris klasik (ejaan lama) sesuai dengan dokumen aslinya, yang menceritakan tentang dinamika antara Raja Majapahit, Pati Aria Gaja Mada, dan ayah angkat sang raja (si penyadap nira).
Transkripsi Teks (Sesuai Gambar):
Halaman 1 (Gambar 1000103682 & 1000103680)
...went into the bitara and enquired the cause of his shutting himself up. The bitara pretended that he was not well. The other said, I perceive you have some secret uneasiness, if you can confide it to me, perhaps, by my advice, it may be easily removed.
The bitara said, "my father is right in his conjecture. I am not the son of the toddy-man, but of the raja of Tanjong Pura, descended of the raja who came down from the mountain Saguntang, and I am named Radin Prana Langu." He then related to him all the events which had happened to him, and among the rest, the agreement into which he had entered with the toddy-man, and that his present distress originated from his desiring to fulfil his engagement and discard his paman, addressing that name to the prime minister.
Pati Aria Gaja Mada requested him not to be cast down, and was greatly delighted to learn that he was the son of the raja of Tanjong Pura, the loss of whose son was a well known circumstance in these regions. He represented that he was very ready to resign his office, being now old. The bitara said he did not wish him to resign, being conscious that the...
Halaman 2 (Gambar 1000103679)
...business could not be performed by his adopted father. Pati Aria Gaja Mada then advised him, that if he should again come to claim his promise, he should tell him, "no doubt the office of Pati Aria Gaja Mada is a very high one, but it is also extremely troublesome, so that it can never be executed by my father; but I have found another office for you of the same dignity. I will set you to preside over all the toddy-men of the country, and you shall have the same place of dignity with the Patri Aria Gaja Mada."
There is no doubt, said he, that he will cheerfully accept it, for he will comprehend the advantage of it. The bitara approved of this advice, and Pati Aria Gaja Mada requested permission to depart. The very next day the toddy-man appeared to claim his promise. The bitara proposed to him his new office, with which he was highly delighted, and all the toddy-men of Majapahit were accordingly placed under him, and he received the title of Pati Aria de Gara, and was permitted to sit with Patri Aria Gaja Mada.
Halaman 3 (Gambar 1000103681)
The Raja of Tanjong Pura learned that the new bitara of Majapahit was his son, and dispatched persons to Majapahit to ascertain the fact, and they perceived that he was really the son of the raja of Tanjong Pura. They quickly returned, and informed the raja, who was greatly delighted, and sent an ambassador to Majapahit.
Thus it was noised over the whole country, that he, the new bitara of Majapahit was the son of the Raja of Tanjong Pura, and all the rajas of the land of Java came to pay their respects. After some time the bitara of Majapahit had a daughter by the Princess, who was named Radin Galah Chandrakerana, whose beauty was celebrated far and wide. How many rajas sought her in marriage, but the bitara of Majapahit refused her hand to them all. Her fame reached as far as Malaca, and Sultan Mansur Shah became enamoured of her by description and meditated on going to Majapahit. He ordered Paduca Raja the bandahara, to fit out a fleet for him. The bandahara quickly fitted out five hundred large prahus, with an innumerable multitude of small ones. At Singhapura he fitted out a hundred lancharans, with three masts. At Sungi-Raya there was another...
Informasi Tambahan (Opsional)
Terjemahan
Teks ini merupakan bagian dari "Leyden's Malay Annals" (terjemahan John Leyden tahun 1821 dari Sejarah Melayu). Bagian ini sangat penting dalam diskursus sejarah karena menghubungkan silsilah penguasa Majapahit dengan Palembang (Bukit Siguntang) dan Tanjung Pura (Langkat, Sumut)
Berikut adalah terjemahan bahasa Indonesia dari potongan teks sejarah tersebut ke dalam gaya bahasa yang lebih mudah dipahami, namun tetap menjaga nuansa klasiknya:
Terjemahan Teks Sejarah Majapahit
Bagian 1: Rahasia Sang Raja
...datang menemui bitara (raja) dan menanyakan penyebab sang raja mengurung diri. Raja berpura-pura bahwa ia sedang tidak enak badan. Namun, tokoh tersebut berkata, "Aku merasa Anda sedang memendam kegelisahan rahasia; jika Anda sudi memercayakannya kepadaku, mungkin dengan saranku, masalah itu dapat dihilangkan dengan mudah."
Raja menjawab, "Ayahku benar dalam dugaannya. Aku bukanlah putra dari si penyadap nira (toddy-man), melainkan putra dari Raja Tanjong Pura, keturunan raja yang turun dari Gunung Saguntang, dan namaku adalah Radin Prana Langu." Ia kemudian menceritakan semua peristiwa yang telah menimpanya, termasuk perjanjian yang telah ia buat dengan si penyadap nira, dan bahwa kesedihannya saat ini berasal dari keinginannya untuk memenuhi janji tersebut namun harus memecat paman-nya (sebutan yang ia tujukan kepada Perdana Menteri).
Pati Aria Gaja Mada memintanya untuk tidak bersedih hati, dan ia sangat gembira mengetahui bahwa sang raja adalah putra Raja Tanjong Pura—sebuah kabar tentang hilangnya putra raja yang sudah sangat terkenal di wilayah-wilayah tersebut. Ia menyatakan bahwa ia sangat siap untuk meletakkan jabatannya, mengingat usianya yang sudah tua. Namun, raja berkata bahwa ia tidak ingin Gajah Mada mengundurkan diri, karena menyadari bahwa...
Bagian 2: Solusi Bijaksana
...urusan pemerintahan tidak akan bisa dijalankan oleh ayah angkatnya. Pati Aria Gaja Mada kemudian menyarankan sang raja bahwa jika si penyadap nira datang lagi untuk menagih janji, raja harus berkata kepadanya:
> "Tidak diragukan lagi bahwa jabatan Pati Aria Gaja Mada adalah jabatan yang sangat tinggi, namun jabatan itu juga sangat merepotkan sehingga tidak akan pernah bisa dijalankan oleh ayahku; tetapi aku telah menemukan jabatan lain untukmu dengan kehormatan yang sama. Aku akan menetapkanmu untuk memimpin seluruh penyadap nira di negeri ini, dan kamu akan memiliki tempat kehormatan yang setara dengan Pati Aria Gaja Mada."
>
"Tidak diragukan lagi," kata Gajah Mada, "dia akan menerimanya dengan senang hati, karena dia akan memahami keuntungannya." Raja menyetujui saran ini, dan Pati Aria Gaja Mada memohon izin untuk pergi. Keesokan harinya, si penyadap nira muncul untuk menagih janji. Raja menawarkan jabatan baru tersebut kepadanya, yang membuatnya sangat senang. Seluruh penyadap nira di Majapahit pun ditempatkan di bawah perintahnya, dan ia menerima gelar Pati Aria de Gara, serta diizinkan untuk duduk bersanding dengan Pati Aria Gaja Mada.
Bagian 3: Hubungan dengan Tanjong Pura dan Malaka
Raja Tanjong Pura mendengar kabar bahwa penguasa baru Majapahit adalah putranya, lalu mengutus orang ke Majapahit untuk memastikan kebenarannya. Mereka menyadari bahwa ia memang benar-benar putra Raja Tanjong Pura. Mereka segera kembali dan memberi tahu raja, yang sangat gembira, lalu mengirim seorang utusan ke Majapahit.
Maka tersiarlah kabar ke seluruh negeri bahwa penguasa baru Majapahit adalah putra Raja Tanjong Pura, dan semua raja di tanah Jawa datang untuk memberikan penghormatan. Setelah beberapa waktu, Raja Majapahit memiliki seorang putri yang diberi nama Radin Galah Chandrakerana, yang kecantikannya termasyhur ke mana-mana. Banyak raja yang melamarnya, namun Raja Majapahit menolak mereka semua.
Ketenarannya mencapai Malaka, dan Sultan Mansur Shah terpikat padanya melalui cerita-cerita tersebut dan berniat pergi ke Majapahit. Beliau memerintahkan Paduka Raja sang Bendahara untuk menyiapkan armada baginya. Bendahara dengan cepat menyiapkan lima ratus perahu besar, dengan jumlah perahu kecil yang tak terhitung banyaknya. Di Singapura, ia menyiapkan seratus lancharan (lancar) bertiang tiga. Di Sungi-Raya, ada satu lagi...
0 comments:
Post a Comment