Di tengah ledakan media sosial di Indonesia, muncul ironi yang semakin sering dibicarakan masyarakat. Konten-konten keagamaan yang viral justru lebih banyak datang dari kreator independen, podcaster, atau tiktoker biasa, sementara para penyuluh agama resmi yang memang memiliki tugas dakwah negara justru jarang muncul dalam arus utama percakapan digital.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan baru mengenai arah dakwah di era algoritma. Di satu sisi, negara memiliki ribuan penyuluh agama yang tersebar hingga pelosok desa. Mereka dibayar untuk melakukan pembinaan umat, menjaga moderasi, dan memberikan pendidikan keagamaan. Namun di sisi lain, ruang digital justru lebih dikuasai figur nonformal yang kadang tidak memiliki latar pendidikan agama mendalam.
Perubahan lanskap komunikasi menjadi salah satu penyebab utama. Dahulu ceramah identik dengan mimbar masjid, pengajian kampung, atau forum tatap muka. Kini dakwah berlangsung di layar ponsel dengan durasi sangat singkat. Algoritma media sosial menuntut pesan cepat, emosional, dan mudah dibagikan.
Dalam situasi itu, banyak penyuluh agama tampak belum sepenuhnya beradaptasi. Mereka masih menggunakan pola komunikasi formal seperti ketika berbicara di depan jamaah konvensional. Bahasa birokratis, penyampaian yang terlalu hati-hati, dan format video yang monoton membuat konten sulit bersaing di tengah derasnya hiburan digital.
Sebagian besar penyuluh agama sebenarnya aktif membuat dokumentasi kegiatan. Namun konten itu sering berhenti di grup WhatsApp internal, akun Facebook komunitas kecil, atau laporan instansi. Akibatnya jangkauan audiens menjadi terbatas dan algoritma tidak melihat adanya interaksi besar.
Berbeda dengan kreator independen yang memahami pola media sosial modern. Mereka mengerti pentingnya potongan video pendek, ekspresi dramatis, musik latar, subtitle cepat, dan judul yang memancing rasa penasaran. Bahkan satu kalimat sederhana dapat dipoles menjadi konten dengan jutaan penonton.
Di TikTok dan Facebook, keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh isi, tetapi juga ritme penyampaian. Penonton digital memiliki perhatian sangat singkat. Jika dalam beberapa detik awal video tidak menarik, pengguna akan langsung menggulir layar ke konten lain.
Penyuluh agama sering berada dalam posisi yang sulit. Sebagai bagian dari institusi resmi, mereka harus menjaga etika, menghindari polemik politik, dan tidak boleh sembarangan membuat sensasi. Mereka dituntut menjadi representasi moderasi dan ketenangan. Namun justru karakter tenang itu sering kalah bersaing dengan konten yang lebih emosional.
Fenomena ini memperlihatkan benturan antara dakwah substansial dan ekonomi perhatian digital. Media sosial cenderung memberi panggung lebih besar kepada konten yang memancing reaksi cepat, bukan yang paling ilmiah atau paling mendalam.
Akibatnya, publik digital lebih mengenal sosok-sosok nonformal dibanding penyuluh yang bekerja langsung di masyarakat. Padahal di lapangan, penyuluh agama memiliki peran besar dalam mediasi konflik sosial, pembinaan keluarga, pendidikan keagamaan, hingga pendampingan komunitas rentan.
Banyak penyuluh agama sebenarnya memiliki kemampuan ilmu yang kuat. Sebagian adalah lulusan pesantren, perguruan tinggi Islam, bahkan memiliki pengalaman panjang dalam pembinaan masyarakat desa. Namun kemampuan keilmuan tidak otomatis berubah menjadi kemampuan membangun audiens digital.
Masalah lain terletak pada minimnya pelatihan media baru. Tidak sedikit penyuluh yang belum akrab dengan editing video, optimasi algoritma, teknik live streaming, atau strategi membangun komunitas daring. Sementara kreator independen belajar hal-hal itu setiap hari karena menjadi sumber popularitas bahkan penghasilan mereka.
Di sisi lain, generasi muda kini lebih menyukai komunikasi yang terasa personal dan spontan. Mereka tertarik pada pembicaraan santai di warung kopi, siaran live malam hari, atau kisah sehari-hari yang terasa dekat dengan pengalaman hidup mereka.
Penyuluh agama sering terjebak dalam citra formal yang berjarak dengan audiens muda. Padahal generasi digital cenderung tidak terlalu mempersoalkan gelar dan jabatan. Mereka lebih memperhatikan apakah seseorang terasa relatable, jujur, dan mudah dipahami.
Kondisi ini membuat otoritas keagamaan mengalami perubahan besar. Jika dahulu legitimasi datang dari lembaga resmi dan pendidikan formal, kini pengaruh bisa lahir dari kemampuan membangun engagement di media sosial.
Meski demikian, viralitas tidak selalu identik dengan kualitas. Banyak konten dakwah populer sebenarnya dangkal, terlalu dipermudah, atau dipotong sedemikian rupa demi mengejar penonton. Bahkan sebagian memanfaatkan kontroversi untuk meningkatkan interaksi.
Karena itu muncul kekhawatiran bahwa ruang digital agama perlahan didominasi figur-figur populer ketimbang pendidik yang benar-benar memiliki kapasitas pembinaan umat. Dalam jangka panjang, keadaan ini dapat memengaruhi kualitas literasi keagamaan masyarakat.
Sejumlah pengamat komunikasi melihat perlunya transformasi besar dalam metode dakwah institusional. Penyuluh agama tidak cukup hanya aktif di lapangan, tetapi juga harus hadir di ruang digital yang kini menjadi tempat utama generasi muda mencari jawaban.
Transformasi itu bukan berarti harus ikut membuat sensasi. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menerjemahkan ilmu yang mendalam ke dalam bahasa yang sederhana, hangat, dan sesuai dengan pola konsumsi media modern.
Beberapa penyuluh muda mulai mencoba pendekatan baru. Mereka membuat video pendek dengan subtitle dinamis, podcast ringan, hingga siaran langsung interaktif. Konten seperti itu mulai menunjukkan bahwa dakwah formal sebenarnya juga bisa dekat dengan publik digital.
Fenomena ini akhirnya menjadi pelajaran penting bahwa di era algoritma, pesan yang baik tidak cukup hanya benar. Ia juga harus mampu hadir dengan cara yang dapat menjangkau perhatian masyarakat luas. Tanpa itu, ruang digital akan terus dikuasai oleh mereka yang paling pandai memainkan perhatian, meski bukan yang paling berkompeten dalam bidangnya.
0 comments:
Post a Comment